Aksesibilitas Website: Mulai dari Mengurangi, Bukan Menambah

Aksesibilitas Website: Mulai dari Mengurangi, Bukan Menambah

Ada satu percakapan yang bentuknya selalu mirip. Klien mengirim pesan, biasanya setelah membaca sesuatu atau setelah ada calon pembeli dari luar negeri yang bertanya, dan isinya kurang lebih: “Website kita perlu WCAG nggak, ya? Ada vendor yang nawarin sertifikasi.” Lalu dikirimkan penawarannya. Angkanya delapan digit. Isinya sebagian besar pemasangan sebuah widget.

Saya hampir selalu menjawab hal yang sama, dan jawaban itu tidak enak didengar oleh dua pihak sekaligus. Untuk klien: aksesibilitas website memang penting, tapi hampir semua yang ditawarkan sebagai solusinya justru memperburuk keadaan. Untuk saya sendiri: alasan hukum yang biasa dipakai untuk menjual pekerjaan ini sebagian besar tidak berlaku di Indonesia, jadi saya tidak bisa memakainya.

Artikel ini bukan daftar tujuh atau lima belas tips. Saya mau menunjukkan tiga hal yang jarang muncul di pencarian berbahasa Indonesia: data terbaru tentang seberapa buruk posisi halaman berbahasa Indonesia dibanding bahasa lain, pola yang menjelaskan kenapa perbaikan aksesibilitas sering gagal justru di tangan orang yang serius mengerjakannya, dan urutan kerja yang dimulai dari menghapus — bukan memasang.

Angka yang Membuat Saya Berhenti Menyebut Ini “Nice to Have”

Setiap tahun WebAIM memindai satu juta beranda situs paling populer di dunia dan menghitung berapa banyak hambatan aksesibilitas yang bisa dideteksi secara otomatis. Laporan 2026 mereka, berdasarkan data Februari 2026, punya satu tabel yang jarang dikutip siapa pun: rata-rata error per halaman, dipecah berdasarkan bahasa dokumen.

Rata-rata global 56,1 error per halaman. Halaman berbahasa Inggris 46,0. Belanda 46,5. Jerman 46,9. Spanyol 64,3. Halaman berbahasa Indonesia — 15.161 halaman dalam sampel itu — rata-rata 72,5 error per halaman, atau 29,2 persen di atas rata-rata dunia. Dari 17 bahasa dengan sampel besar, hanya empat yang lebih buruk: Vietnam, Rusia, Korea, dan Tiongkok.

Perlu saya tambahkan satu catatan supaya angka ini dibaca jujur. Sampelnya berasal dari daftar sejuta situs teratas dunia, jadi yang terhitung di situ adalah situs Indonesia yang relatif besar: media, marketplace, korporat, kampus. Bukan toko online lima halaman. Yang membuat saya berhenti sejenak justru itu: kalau situs Indonesia yang paling ramai saja rata-rata punya 72 hambatan di berandanya, sulit membayangkan situs yang lebih kecil ada di posisi lebih baik.

Tren keseluruhannya juga berbalik arah tahun ini. Persentase beranda yang punya kegagalan WCAG terdeteksi naik dari 94,8 persen menjadi 95,9 persen — pembalikan setelah enam tahun berturut-turut membaik sedikit demi sedikit. Rata-rata error naik 10,1 persen dari 51 menjadi 56,1.

Apa Itu Aksesibilitas Website dan Enam Kesalahan yang Menyumbang Hampir Semuanya

Aksesibilitas website adalah kondisi ketika sebuah situs tetap bisa dipahami dan dioperasikan oleh orang yang mengaksesnya dengan cara berbeda dari kebanyakan orang — pembaca layar, hanya keyboard, teks yang diperbesar, tanpa suara, atau dengan waktu reaksi yang lebih lambat. Standarnya bernama WCAG, disusun oleh W3C, dan bertumpu pada empat prinsip: konten harus bisa dipersepsi, dioperasikan, dipahami, dan kokoh di berbagai teknologi.

Satu koreksi kecil yang perlu, karena beberapa artikel Indonesia yang masih menempati halaman satu menulis bahwa versi terbaru adalah WCAG 2.1. Bukan. WCAG 2.2 sudah menjadi W3C Recommendation sejak 5 Oktober 2023, diperbarui 12 Desember 2024, dan diadopsi sebagai ISO/IEC 40500:2025. WCAG 3.0 masih berstatus draf kerja dan belum jadi acuan kepatuhan mana pun. Jadi bila ada yang menyebut angka, angkanya sekarang 2.2 level AA.

Bagian yang lebih berguna daripada versi standarnya: dari 56 juta error yang terdeteksi WebAIM di satu juta beranda, 96 persen jatuh ke dalam enam kategori saja, dan keenamnya sama persis selama tujuh tahun terakhir.

Kontras teks terlalu rendah — 83,9 persen halaman. Rata-rata 34 kejadian per halaman.

Gambar tanpa teks alternatif — 53,1 persen halaman. Sekitar 16,2 persen dari seluruh gambar tidak punya alt sama sekali.

Input formulir tanpa label — 51 persen halaman. Sepertiga dari seluruh input formulir tidak berlabel dengan benar.

Tautan kosong — 46,3 persen halaman. Tautan yang tidak punya teks apa pun untuk dibacakan.

Tombol kosong — 30,6 persen halaman. Ikon tanpa nama; pembaca layar cuma bisa bilang “tombol”.

Bahasa dokumen tidak dideklarasikan — 13,5 persen halaman. Satu atribut, satu baris.

Enam hal. Itu saja yang menyumbang hampir seluruh kerusakan yang bisa diukur mesin. Dan tiga di antaranya — alt, teks tautan, dan sebagian besar masalah kontras — tidak butuh developer untuk diperbaiki.

Kenapa Saya Tidak Akan Menakut-nakuti Anda dengan Alasan Hukum

Di sinilah artikel ini berpisah jalan dengan hampir semua tulisan lain tentang topik ini, termasuk yang ditulis orang-orang yang menjual jasa seperti saya.

Kalau Anda mencari alasan hukum untuk memaksa diri sendiri bergerak, di Indonesia alasan itu tipis. UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas memang menjamin hak aksesibilitas di Pasal 5, dan Pasal 124 mewajibkan pemerintah memastikan informasi dapat dijangkau dan dipahami sesuai keragaman disabilitas. PP Nomor 70 Tahun 2019 kemudian memberi mandat kepada kementerian terkait untuk menyusun standar layanan komunikasi dan informasi publik yang aksesibel, dan pedoman turunannya merujuk ke ISO 40500 dan WCAG.

Baca ulang kalimat-kalimat itu: subjeknya lembaga publik. Tidak ada kewajiban aksesibilitas web untuk situs komersial swasta di Indonesia yang bisa digugat seseorang seperti di Amerika Serikat. Riset akademik dan liputan yang ada pun umumnya menyoroti situs pemerintah dan universitas, bukan toko online.

Jadi, tidak. Kalau bisnis Anda hanya melayani pelanggan dalam negeri, secara hukum domestik Anda tidak sedang melanggar apa pun. Saya menghapus alasan penjualan paling kuat yang tersedia buat saya, dan saya sengaja melakukannya, karena argumen yang berdiri di atas ancaman palsu akan roboh begitu pembeli mengecek sendiri.

Alasan yang tersisa ada dua, dan keduanya lebih membosankan sekaligus lebih nyata. Pertama, ada satu jalur hukum yang benar-benar sudah menyentuh sebagian bisnis Indonesia sejak 2025 — saya bahas di bagian akhir. Kedua, enam kesalahan tadi bukan cuma menghalangi penyandang disabilitas; empat di antaranya juga membuang uang Anda dari pengunjung yang sama sekali tidak punya disabilitas.

Perhatikan yang mana. Formulir tanpa label bukan hanya membuat pembaca layar membacakan “kotak isian, kosong” tanpa keterangan apa pun. Ia juga formulir yang paling sering ditinggalkan orang biasa di tengah jalan — dan ini sudah masuk wilayah yang saya bahas terpisah soal urutan memperbaiki konversi website sebelum menguji apa pun. Tombol kosong adalah tombol yang tidak dimengerti mesin maupun manusia. Kontras rendah adalah teks yang gagal dibaca siapa pun di bawah matahari Jakarta jam dua siang.

Dan omong-omong soal peringkat: kalau yang sebenarnya Anda kejar adalah posisi di Google, aksesibilitas bukan jalan pintas ke sana — itu pekerjaan yang berbeda, dan saya mengerjakannya terpisah sebagai jasa SEO. Alasannya saya jelaskan sebentar lagi, karena ini termasuk klaim yang paling sering saya temukan salah di artikel berbahasa Indonesia.

Pola yang Baru Saya Sadari Setelah Bertahun-tahun: Kerusakannya Ditambahkan oleh Orang yang Sedang Berusaha Membantu

Ini bagian yang mengubah cara saya menangani pekerjaan ini, dan saya butuh waktu lama untuk melihatnya karena buktinya berserakan di tempat yang berbeda-beda.

Mulai dari ARIA. ARIA adalah sekumpulan atribut yang diciptakan khusus untuk memberi tahu teknologi bantu apa peran sebuah elemen. Orang memakainya justru ketika mereka sedang berniat memperbaiki aksesibilitas. Nah, di data WebAIM 2026: halaman yang memakai ARIA punya rata-rata 59,1 error, sementara halaman yang tidak memakainya punya 42. Selisih 17 hambatan. Pemakaian ARIA sendiri naik 27 persen hanya dalam setahun, sampai rata-rata 133 atribut per halaman.

WebAIM sendiri memberi catatan jujur yang harus ikut saya sampaikan: halaman yang memakai ARIA juga cenderung halaman yang lebih rumit, jadi ini korelasi, bukan bukti bahwa ARIA yang menyebabkannya. Tapi ada satu angka di laporan yang sama yang jauh lebih sulit dijelaskan sebagai kebetulan: dari halaman yang memakai menu ARIA, 22 persen justru menimbulkan hambatan baru karena markup dan interaksinya tidak lengkap. Bukan gagal membantu. Menimbulkan hambatan.

Sekarang lihat polanya di tempat lain.

Skip link — tautan “lewati ke konten” yang dipasang khusus untuk pengguna keyboard — ada di 17,1 persen halaman. Satu dari sepuluh skip link itu rusak: tersembunyi dengan cara yang membuatnya tak bisa dijangkau, atau menunjuk ke target yang tidak ada di halaman. Elemen yang cuma dipasang oleh orang yang tahu ia perlu dipasang, dan sepuluh persennya tidak berfungsi.

Alt text yang ditulis untuk mesin, bukan untuk orang. Ini yang paling sering saya temukan di Indonesia, dan sumbernya bukan kemalasan — sumbernya nasihat SEO. Salah satu artikel yang bertahan lama di halaman satu untuk kata kunci ini secara eksplisit menyarankan “tambahkan keyword yang sesuai” ke dalam alt text. Ikuti nasihat itu, dan pengguna pembaca layar mendengar rentetan kata kunci alih-alih deskripsi gambar. Data WebAIM: 10,8 persen gambar yang punya alt text isinya meragukan atau berulang — nama file, kata “gambar”, atau teks yang persis sama dengan teks di sebelahnya. Digabung dengan yang tidak punya alt sama sekali, lebih dari satu dari empat gambar bermasalah.

Saya bukan pengamat netral di sini. Bertahun-tahun lalu saya termasuk yang mengajari orang mengisi alt text dengan kata kunci, karena begitulah yang diajarkan ke saya. Yang menyadarkan saya bukan artikel aksesibilitas, tapi pernyataan Google sendiri: pada Januari 2025 John Mueller menegaskan bahwa pemilihan alt text pada dasarnya bukan keputusan SEO. Alt text memengaruhi pencarian gambar dan membantu Google memahami konteks; ia bukan tuas peringkat. Artinya selama bertahun-tahun kami merusak fungsi utamanya demi manfaat yang sebagian besar tidak ada.

Terakhir, dan yang paling mahal: widget aksesibilitas. Ikon melayang di pojok layar yang menawarkan perbesar teks, ubah kontras, mode disleksia. Dibeli persis oleh orang yang peduli. Bagian ini saya bahas tersendiri di daftar kesalahan di bawah, karena angkanya pantas berdiri sendiri.

Empat kejadian, satu pola: HTML biasa yang ditulis orang yang tidak pernah memikirkan aksesibilitas sering kali lebih baik daripada HTML yang ditulis orang yang mencoba. W3C sudah menuliskan obatnya bertahun-tahun lalu sebagai aturan pertama ARIA — kalau ada elemen HTML asli yang sudah punya perilaku dan makna yang Anda butuhkan, pakai elemen itu, jangan mengubah elemen lain lalu menempelkan peran ARIA di atasnya. Butuh tombol, pakai elemen tombol. Butuh dropdown, pakai elemen select. Aturan keduanya bahkan lebih singkat: jangan merusak yang sudah jalan.

Empat Langkah, dan Tiga di Antaranya Adalah Pengurangan

Karena polanya seperti itu, urutan kerjanya juga berbeda dari checklist yang beredar. Semua checklist dimulai dengan “tambahkan”. Yang ini dimulai dengan “hapus”.

Langkah 1 — Kurangi Dulu, Sebelum Menambah Apa Pun

Tidak ada baris kode baru di langkah ini, dan hampir selalu ini yang memberi perbaikan terbesar per jam kerja.

Matikan widget aksesibilitas kalau ada. Cari ARIA yang tidak bisa Anda jelaskan fungsinya satu per satu, lalu hapus — terutama aria-hidden yang menempel di elemen besar, dan role yang ditempelkan ke elemen div. Ganti tiruan tombol dengan elemen tombol asli. Cari baris CSS yang berbunyi outline: none dan hapus; tiga baris itu saja cukup untuk membuat pengguna keyboard kehilangan tanda posisi di seluruh situs. Kalau ada skip link, tekan Tab sekali dari atas halaman dan pastikan ia muncul dan benar-benar melompat ke konten.

Ini juga saat yang tepat untuk memeriksa satu keputusan yang biasanya dianggap keputusan desain: slider di beranda. Saya kembali ke sana di bagian terakhir.

Langkah 2 — Perbaiki Enam Kesalahan Itu, dan Pisahkan Mana yang Butuh Developer

Alt text, teks tautan, dan struktur heading lahir di editor konten. Penulis Anda bisa mengerjakannya hari ini juga, tanpa siapa pun. Aturannya sederhana: tulis alt seolah Anda sedang membacakan halaman itu lewat telepon kepada seseorang yang tidak bisa melihat layarnya. Kalau gambarnya murni dekorasi, beri alt kosong supaya pembaca layar melewatinya — itu bukan kemalasan, itu keputusan yang benar. Untuk teks tautan, ganti “klik di sini” dan “selengkapnya” dengan kalimat yang menjelaskan tujuannya; 15,2 persen halaman di dunia masih memakai teks tautan ambigu. Untuk heading, jangan melompati level, dan jangan pakai heading hanya karena ingin tulisannya besar. Di sampel WebAIM, 41,8 persen halaman melompati level heading dan 18,1 persen punya lebih dari satu H1.

Kontras dan indikator fokus adalah keputusan desainer, sekali diambil lalu berlaku di seluruh situs. Angkanya 4,5:1 untuk teks normal dan 3:1 untuk teks besar. Yang sering terlewat: teks di atas gambar, teks abu-abu muda di footer, dan placeholder formulir yang dipakai menggantikan label.

Label formulir, keterjangkauan keyboard, dan pembersihan ARIA ada di lapis pembangunan situs. Ini yang paling sering butuh orang yang bisa menyentuh template, dan juga yang paling sering ditunda karena tidak ada yang ditugaskan.

Langkah 3 — Uji dengan Cara yang Tidak Bisa Dibohongi Skor

Empat pemeriksaan, semuanya gratis, semuanya di bawah lima belas menit, dan semuanya menangkap hal yang tidak bisa ditangkap alat otomatis.

Cabut mouse. Selesaikan satu tugas penting di situs Anda — cari produk, isi formulir, kirim — hanya dengan tombol Tab, panah, dan Enter. Kalau Anda tersangkut di satu titik dan tidak bisa keluar tanpa mouse, Anda baru menemukan hambatan kelas berat.

Perbesar teks browser ke 200 persen. Lihat apakah ada teks yang tumpang tindih, terpotong, atau tombol yang keluar dari layar.

Matikan gambar di browser, lalu baca halaman Anda. Kalau yang tersisa tidak masuk akal, alt text Anda belum bekerja.

Nyalakan pembaca layar bawaan sistem — VoiceOver di Mac dan iPhone, Narrator di Windows, TalkBack di Android. Gratis, sudah terpasang. Dengarkan satu halaman produk dan satu formulir. Anda tidak perlu jadi ahli; Anda cuma perlu mendengar berapa kali alat itu bilang “tautan” tanpa menyebut ke mana.

Langkah 4 — Pindahkan ke Titik Terbit, Jangan Jadikan Proyek

Ini yang membuat perbaikan bertahan. Kompleksitas halaman naik 22,5 persen hanya dalam satu tahun menurut data WebAIM 2026 — rata-rata beranda sekarang berisi 1.437 elemen. Situs yang Anda bereskan bulan ini akan menumpuk hambatan baru dalam enam bulan kalau perbaikannya berhenti sebagai proyek.

Tiga pertanyaan di titik terbit sudah cukup untuk menahan sebagian besar kemunduran: apakah setiap gambar punya alt yang masuk akal, apakah setiap tautan bisa dimengerti tanpa membaca kalimat di sekitarnya, dan apakah heading-nya berurutan.

Lima Kesalahan yang Terjadi Sebelum Satu Baris Kode Disentuh

Semua kesalahan ini terjadi di meja pengambil keputusan, bukan di layar developer.

Memasang widget aksesibilitas lalu menganggap urusan selesai. Ini yang paling mahal. Pada April 2025, FTC di Amerika Serikat menjatuhkan denda satu juta dolar kepada accessiBe karena mengklaim widget-nya bisa membuat situs patuh WCAG; perintah finalnya melarang klaim kepatuhan tanpa bukti dan berlaku 20 tahun. Yang lebih telak adalah data gugatannya: analisis TestParty atas data pengadilan menemukan lebih dari seribu bisnis — lebih dari seperempat dari seluruh gugatan aksesibilitas digital — digugat padahal sudah memasang overlay. Pada 2025, 22,6 persen gugatan aksesibilitas situs web menyasar situs yang memasang widget. Mekanismenya masuk akal begitu dijelaskan: pemindai pihak penggugat membaca HTML aslinya, bukan tampilan hasil modifikasi widget, dan pengguna pembaca layar justru sering melaporkan widget itu bertabrakan dengan alat yang sudah mereka pakai.

Mengejar skor 100 di Lighthouse. Pada 2019 Manuel Matuzović membangun demonstrasi yang masih hidup sampai sekarang — terakhir diperbarui Februari 2026 — berupa halaman yang: hanya tampil kalau CSS dan JavaScript berhasil dimuat, menyembunyikan seluruh isi dari pembaca layar lewat aria-hidden, mematikan semua tombol keyboard, menghapus indikator fokus, membuat teks jadi setransparan tiga persen, dan mengacak sumber halaman jadi entitas HTML. Skor aksesibilitas Lighthouse-nya: 100. Google sendiri menulis peringatannya persis di bawah skor itu — hanya sebagian masalah aksesibilitas yang bisa dideteksi otomatis, jadi pengujian manual tetap dianjurkan. Perkiraan yang beredar menempatkan cakupan alat otomatis di kisaran sepertiga sampai 40 persen kegagalan WCAG, berbeda-beda tergantung alat dan metode studinya. Dan ada satu cacat yang lebih halus: skor menghitung jumlah pelanggaran, bukan jumlah orang yang terkunci. Tiga puluh empat kejadian kontras rendah membuat teks melelahkan dibaca; satu jebakan keyboard membuat seseorang tidak bisa menyelesaikan pembelian sama sekali. Di skor, yang pertama terlihat jauh lebih buruk.

Menulis alt text untuk mesin. Sudah saya bahas di atas, tapi konsekuensi praktisnya perlu ditegaskan: alt yang dijejali kata kunci lebih buruk bagi pengguna sebenarnya daripada tidak ada alt sama sekali, dan manfaat peringkatnya sebagian besar tidak ada.

Menganggap ini pekerjaan developer. Tiga dari enam kesalahan terbanyak di dunia — alt text, teks tautan, struktur heading — lahir di editor konten. Melemparkannya ke antrean developer berarti menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa selesai minggu ini oleh orang yang sudah Anda bayar untuk menulis.

Memperlakukannya sebagai proyek sekali jalan. Lihat lagi angka kompleksitas tadi. Situs yang tidak berubah adalah situs yang tidak dipakai; situs yang dipakai akan menumpuk hambatan baru setiap kali ada halaman, formulir, atau plugin baru.

Dua Hal yang Hampir Tidak Pernah Dibahas dalam Bahasa Indonesia

Kewajiban Hukum yang Sudah Menyentuh Sebagian Bisnis Indonesia Sejak Juni 2025

Tadi saya bilang alasan hukum domestik tipis. Ada satu pengecualian, dan pengecualian ini justru mengenai bisnis Indonesia yang paling mungkin tidak menyadarinya.

European Accessibility Act mulai bisa ditegakkan sejak 28 Juni 2025. Yang membuatnya relevan di sini: kewajibannya melekat pada siapa pun yang menjual produk atau layanan tercakup ke pasar Uni Eropa, termasuk penjual yang tidak berbasis di Uni Eropa. Perusahaan di luar UE yang situsnya menerima pesanan dari pelanggan di Jerman atau Prancis masuk ke dalam jangkauannya. Acuannya WCAG.

Praktisnya, di Indonesia ini menyentuh perusahaan perangkat lunak yang menjual langganan lintas negara, eksportir dengan toko sendiri, penyedia layanan wisata dan pemesanan yang melayani tamu Eropa, dan siapa pun yang memproses pembayaran dari sana. Ada pengecualian untuk perusahaan mikro — kurang dari 10 karyawan dan omzet tahunan di bawah dua juta euro, dua syarat sekaligus, bukan salah satu.

Saya tidak menyodorkan ini sebagai alasan untuk panik. Saya menyodorkannya karena inilah satu-satunya kewajiban hukum nyata yang saya temukan yang benar-benar bisa menyentuh klien saya, dan nol artikel berbahasa Indonesia yang saya baca untuk topik ini menyebutnya.

Kenapa Angkanya Justru Memburuk di 2026, dan Komponen Mana yang Paling Sering Ikut Terlibat

Kesimpulan WebAIM sendiri menunjuk dua tersangka: makin bergantungnya situs pada kerangka kerja dan pustaka pihak ketiga, dan praktik menulis kode secara otomatis atau dibantu AI. Beranda makin besar dan makin rumit dengan kecepatan yang mereka sebut mengkhawatirkan.

Bagian yang bisa langsung Anda pakai adalah tabel teknologinya, dengan satu peringatan yang WebAIM sendiri berikan: ini asosiasi, bukan sebab-akibat, dan halaman yang memakai teknologi tertentu sering juga halaman yang lebih rumit sejak awal.

Yang mengejutkan buat saya: WordPress justru sedikit lebih baik daripada rata-rata, 52,8 error dibanding 56,1 global. Situs yang dibangun di Squarespace dan Wix jauh lebih baik lagi, di kisaran 33. Yang jauh lebih buruk justru platform toko: Shopify 75,1 dan Prestashop 143,2.

Tapi yang paling bisa ditindaklanjuti ada di daftar pustaka JavaScript, dan hampir semuanya adalah hal yang sama: komponen geser. Swiper rata-rata 74,0 error. Slick 70,9. OWL Carousel 70,7. FancyBox 90,0. jQuery UI 79,9. Slider Revolution 67,2. Halaman dengan reCAPTCHA punya 7,7 error lebih banyak dari rata-rata.

Kalau situs Anda dibangun di WordPress dengan page builder, kemungkinan besar tiga sampai lima nama itu ada di sana sekarang, dan sebagian besar dipasang untuk satu elemen: slider di beranda. Yang bagi saya menarik, slider itu juga komponen yang paling sering saya sarankan dibuang karena alasan yang sama sekali tak berhubungan dengan aksesibilitas — hampir tidak ada yang menggeser sampai slide kedua. Sekarang ada alasan kedua untuk keputusan yang sama.

Ini juga yang membuat perbaikan aksesibilitas kadang membentur langit-langit. Kalau komponen bermasalah itu bagian dari tema atau builder yang Anda pakai, mengaturnya dari dashboard tidak akan cukup, dan yang dibutuhkan adalah perubahan di lapis bagaimana situsnya dibangun — bukan lagi pekerjaan pengaturan konten.

Satu batas yang perlu saya tegaskan supaya tidak salah dibaca. Cepat dan rapi di ponsel bukan hal yang sama dengan bisa dioperasikan; artikel saya tentang mengapa transisi mobile first indexing sudah selesai tapi alat pengeceknya ikut dihapus membahas sisi keterbacaan mesin, sementara di sini urusannya keterpakaian oleh manusia. Begitu juga dengan hubungan UX dan peringkat yang sudah saya bahas terpisah — di sana pertanyaannya apakah situs Anda nyaman dan menang di hasil pencarian; di sini pertanyaannya apakah ada orang yang sama sekali tidak bisa memakainya.

Mulai dari Lima Belas Menit, Bukan dari Anggaran

Kalau ada satu hal yang saya ingin Anda bawa dari artikel ini, ini dia: sebelum membeli apa pun, cabut mouse Anda dan coba selesaikan satu tugas di situs Anda sendiri dengan keyboard saja.

Lima belas menit. Tanpa alat, tanpa biaya, tanpa menunggu siapa pun. Kalau Anda berhasil sampai akhir tanpa tersangkut, situs Anda mungkin dalam kondisi jauh lebih baik daripada rata-rata dan yang tersisa cuma pekerjaan rapi-rapi di editor konten. Kalau Anda tersangkut — dan sebagian besar orang tersangkut di formulir atau menu — Anda baru saja menemukan hambatan nyata tanpa membaca satu pun dokumen WCAG.

Setelah itu baru urutannya masuk akal: kurangi dulu, perbaiki enam kesalahan yang menyumbang hampir semuanya, uji dengan cara yang tidak bisa dibohongi skor, lalu pindahkan ke kebiasaan terbit.

Kalau ternyata yang menghalangi ada di lapis yang tidak bisa Anda sentuh dari dashboard — tema yang mengunci struktur, komponen geser yang tidak bisa dioperasikan keyboard, formulir yang label-nya tidak bisa diperbaiki dari page builder — itu wilayah yang saya kerjakan lewat jasa pembuatan dan pembenahan website. Tapi periksa dulu sendiri. Cukup sering yang saya temukan bukan kebutuhan membangun ulang apa pun, melainkan satu baris CSS yang menghapus indikator fokus dan sebuah widget yang dipasang dengan niat baik dua tahun lalu.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah aksesibilitas website berpengaruh ke peringkat Google?

Tidak secara langsung, dan Google tidak pernah menyatakan aksesibilitas sebagai faktor peringkat. Ada irisan kecil yang nyata — teks alternatif membantu pencarian gambar, struktur heading dan teks tautan yang jelas membantu pemahaman konten, HTML semantik membantu perayapan — tapi masalah aksesibilitas yang paling umum, yaitu kontras warna rendah, tidak berpengaruh sama sekali pada peringkat. Kalau Anda mengerjakan aksesibilitas demi SEO, Anda akan melewatkan justru kesalahan yang paling banyak terjadi.

Apakah bisnis saya di Indonesia wajib memenuhi WCAG?

Kalau Anda swasta dan hanya melayani pelanggan dalam negeri, secara hukum domestik tidak ada kewajiban yang mengikat seperti itu. Kewajiban aksesibilitas dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 dan PP Nomor 70 Tahun 2019 diarahkan pada lembaga publik. Situasinya berubah kalau Anda menjual ke pelanggan di Uni Eropa, karena European Accessibility Act menjangkau penjual dari luar UE sejak 28 Juni 2025.

Apakah widget atau plugin aksesibilitas cukup?

Tidak. FTC mendenda salah satu penyedia terbesar satu juta dolar pada April 2025 karena klaim kepatuhan yang tidak berdasar, dan pada 2025 sekitar 22,6 persen gugatan aksesibilitas situs web justru menyasar situs yang sudah memasang widget. Widget mengubah tampilan di atas HTML yang bermasalah; ia tidak memperbaiki HTML-nya.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki situs yang belum pernah disentuh?

Bergantung ukuran situs, tapi pembagiannya biasanya begini: pekerjaan yang bisa diselesaikan tanpa developer — alt text, teks tautan, struktur heading — sering selesai dalam hitungan hari untuk situs di bawah lima puluh halaman. Yang butuh lapis pembangunan situs bisa memakan beberapa minggu. Yang paling sering memakan waktu bukan pengerjaannya, melainkan menunggu seseorang ditugaskan.

Apa bedanya WCAG level A, AA, dan AAA?

A adalah tingkat paling dasar, AA adalah tingkat yang dipakai hampir semua regulasi di dunia sebagai patokan, dan AAA adalah tingkat paling ketat yang jarang dituntut secara menyeluruh. Kalau ada yang menyebut angka target tanpa penjelasan, yang mereka maksud hampir selalu WCAG 2.2 level AA.

Situs saya kecil dan pengunjungnya sedikit. Apakah ini masih relevan?

Enam kesalahan terbanyak itu tidak menjadi lebih murah diperbaiki hanya karena situsnya kecil — justru lebih murah, karena halamannya sedikit. Dan empat dari enam kesalahan itu juga merugikan pengunjung yang tidak punya disabilitas sama sekali: formulir tanpa label lebih sering ditinggalkan, tombol tanpa nama lebih jarang diklik, teks berkontras rendah gagal dibaca di layar ponsel di bawah matahari.

id_IDIndonesian