{"id":1801,"date":"2026-07-13T19:41:45","date_gmt":"2026-07-13T12:41:45","guid":{"rendered":"https:\/\/achmadfarid.com\/?p=1801"},"modified":"2026-07-13T19:41:45","modified_gmt":"2026-07-13T12:41:45","slug":"biaya-pembuatan-website","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/biaya-pembuatan-website\/","title":{"rendered":"Biaya Pembuatan Website 2026: Panduan Jujur Sebelum Anda Keluar Uang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali ada yang tanya ke saya, &#8220;Mas, biaya pembuatan website berapa sih?&#8221;, saya selalu menahan diri untuk tidak langsung menyebut angka. Bukan karena mau bertele-tele. Tapi karena pertanyaan itu mirip seperti bertanya &#8220;harga mobil berapa?&#8221; ke orang asing di jalan. Jawabannya bisa Rp 800 ribu, bisa juga Rp 150 juta \u2014 dan keduanya sama-sama benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di artikel ini saya akan buka kartu soal biaya pembuatan website secara apa adanya: kisaran harga terbaru 2026 per jenis website, komponen apa saja yang sebenarnya Anda bayar, tiga jalur membuat website beserta konsekuensi biayanya, sampai biaya-biaya tersembunyi yang jarang disebut vendor di awal. Tujuannya satu \u2014 supaya Anda tidak kaget di tengah jalan, dan tidak salah menilai mana penawaran yang wajar dan mana yang cuma murah di depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menulis ini dari kursi orang yang sudah delapan tahun mengurus website klien, mulai dari UMKM yang modalnya pas-pasan sampai perusahaan yang minta fitur macam-macam. Jadi angka-angka di sini bukan hasil comot dari Google, melainkan yang benar-benar saya lihat di lapangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa Tidak Ada &#8220;Harga Pasti&#8221; untuk Membuat Website<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bagian yang paling sering bikin calon klien frustrasi. Mereka datang berharap dapat satu angka bulat, pulang malah dapat rentang yang lebar. Wajar kalau bingung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, &#8220;website&#8221; itu bukan satu produk. Landing page satu halaman untuk kampanye iklan dan toko online dengan 2.000 produk sama-sama disebut website, padahal effort-nya beda jauh. Satu bisa selesai dalam tiga hari, satu lagi butuh dua bulan tim kerja. Menyamakan harga keduanya sama saja seperti menyamakan harga warung tenda dengan restoran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal 2023 saya pernah kedatangan calon klien yang kaget waktu saya sebut angka Rp 12 juta untuk company profile. Katanya, &#8220;Lah, di marketplace ada yang Rp 500 ribu.&#8221; Saya cuma bilang, silakan dicoba dulu. Empat bulan kemudian dia balik lagi \u2014 website Rp 500 ribu-nya sudah tidak bisa diakses, orang yang bikin menghilang, dan dia harus mulai dari nol. Bukan berarti yang murah selalu jelek. Tapi murah tanpa Anda tahu apa yang dikorbankan itu yang bahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum bicara angka, Anda perlu paham dulu <\/span><a href=\"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/jenis-jenis-website-panduan-memilih-yang-tepat\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">jenis website yang paling sesuai dengan tujuan bisnis Anda<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, karena dari situlah seluruh perhitungan biaya bermula. Beda tujuan, beda &#8220;denah rumah&#8221;, beda pula ongkosnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kisaran Biaya Pembuatan Website 2026 (Rangkuman Cepat)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Anda cuma butuh gambaran kasar sebelum menyusun anggaran, ini rentang harga yang saya lihat berlaku di pasar Indonesia sepanjang 2026. Anggap ini titik awal, bukan harga mati.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Landing page (1 halaman):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Rp 1,5 juta \u2013 Rp 8 juta. Cocok untuk kampanye iklan, peluncuran produk, atau pendaftaran event.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Company profile \/ website bisnis:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Rp 5 juta \u2013 Rp 15 juta. Ini &#8220;brosur digital&#8221; standar untuk membangun kredibilitas.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Toko online \/ e-commerce:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Rp 8 juta \u2013 Rp 25 juta, tergantung jumlah produk dan fitur pembayaran.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Website custom \/ web app \/ enterprise:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Rp 25 juta \u2013 Rp 100 juta ke atas. Untuk sistem yang dibangun dari nol sesuai alur bisnis spesifik.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar rentang itu, ada dua kutub ekstrem. Website super sederhana pakai template siap pakai bisa jadi hanya Rp 800 ribu \u2013 Rp 3 juta. Sementara proyek korporat berskala besar dengan integrasi sistem internal bisa tembus Rp 150 juta \u2013 Rp 250 juta. Keduanya tetap &#8220;website&#8221;, tetap valid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang sering luput: angka di atas baru biaya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pembuatan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ada biaya tahunan yang jalan terus selama website hidup. Nanti saya bahas terpisah karena bagian ini yang paling banyak bikin orang kecele.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa Saja yang Sebenarnya Anda Bayar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu Anda transfer sekian juta untuk sebuah website, uang itu sebetulnya pecah ke beberapa pos. Memahami pecahan ini bikin Anda lebih pede waktu negosiasi \u2014 dan lebih peka waktu ada penawaran yang terlalu murah untuk masuk akal.<\/span><\/p>\n<h3><b>Biaya satu kali (di awal)<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini komponen yang dibayar sekali di depan untuk membangun website-nya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Desain UI\/UX:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> tampilan dan alur pengalaman pengguna. Pakai template jauh lebih murah daripada desain custom dari nol.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Development \/ coding:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> proses membangun fungsionalitas. Semakin banyak fitur (form, filter, pembayaran, dashboard), semakin besar porsinya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Konten awal:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> penulisan teks, penyiapan foto, penataan halaman. Sering dianggap gratis, padahal makan waktu.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Setup teknis:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> pemasangan di server, konfigurasi keamanan dasar, pengaturan SSL.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h3><b>Biaya berulang (tiap tahun \/ bulan)<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini yang sering dilupakan padahal jalan terus:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Domain:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> sekitar Rp 150 ribu \u2013 Rp 350 ribu per tahun untuk .com.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Hosting:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Rp 300 ribu \u2013 Rp 5 juta per tahun, tergantung spesifikasi dan trafik.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Maintenance:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> mulai Rp 300 ribu per bulan untuk situs kecil, sampai Rp 2 juta per bulan untuk website perusahaan yang butuh update rutin, backup, dan monitoring keamanan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktor yang paling menentukan besar-kecilnya semua ini cuma tiga: tingkat kustomisasi desain, jumlah dan kerumitan fitur, serta siapa yang mengerjakan. Dua website yang kelihatan mirip di permukaan bisa beda harga dua kali lipat hanya karena satu dibangun dengan template dan satu lagi custom. Kalau Anda penasaran soal trade-off ini, saya sudah <\/span><a href=\"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/website-custom-vs-wordpress\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">membandingkan website custom dengan WordPress<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> lengkap dengan kelebihan-kekurangan biayanya di artikel terpisah.<\/span><\/p>\n<h2><b>3 Jalur Membuat Website dan Konsekuensi Biayanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga akhir sangat ditentukan oleh siapa yang Anda percaya untuk mengerjakan. Ada tiga jalur, dan masing-masing punya karakter biaya, ritme, serta risiko yang berbeda. Tidak ada yang paling benar \u2014 yang ada, paling cocok untuk situasi Anda.<\/span><\/p>\n<h3><b>Jalur 1: DIY pakai website builder<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda pakai Wix, WordPress.org, atau Shopify dan merakit sendiri. Biaya paling ringan, sering di bawah Rp 2 juta setahun sudah termasuk hosting. Cocok kalau Anda punya waktu luang dan tidak masalah dengan kurva belajar yang kadang bikin pusing. Kelemahannya jelas: hasil akhir bergantung pada seberapa telaten Anda, dan waktu Anda sendiri sebetulnya tidak gratis.<\/span><\/p>\n<h3><b>Jalur 2: Freelancer<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyewa satu orang untuk mengerjakan website Anda. Biayanya di tengah \u2014 biasanya Rp 3 juta \u2013 Rp 15 juta tergantung pengalaman si freelancer. Fleksibel dan personal. Tapi ini judi soal konsistensi: kalau freelancer-nya hilang di tengah jalan (dan ini sering terjadi), Anda repot sendiri. Saya sarankan minta portofolio dan kontak klien lama sebelum deal.<\/span><\/p>\n<h3><b>Jalur 3: Agensi atau spesialis<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda menyerahkan ke tim atau praktisi yang memang fokus di bidang ini. Paling mahal, tapi Anda bayar untuk proses yang terstruktur, akuntabilitas, dan hasil yang dipikirkan sejak strategi \u2014 bukan cuma &#8220;jadi&#8221;. Untuk website bisnis serius, ini biasanya investasi yang paling masuk akal karena website yang efektif butuh strategi teknis dan desain konversi sejak hari pertama, bukan tambalan belakangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik ini saya harus jujur soal posisi saya sendiri: saya menjalankan <\/span><a href=\"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/web-development\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">layanan web development<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, jadi wajar kalau saya bias ke jalur ketiga. Tapi saya tetap sering menyarankan klien UMKM yang budget-nya sangat terbatas untuk mulai dari builder dulu. Lebih baik punya website sederhana yang jalan daripada memaksakan yang mahal lalu tercekik biaya tahunan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cara Menghitung Anggaran Website Anda: 5 Pertanyaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada menebak-nebak, saya biasanya mengajak klien menjawab lima pertanyaan ini dulu. Jawabannya langsung mempersempit rentang harga dari &#8220;entah berapa&#8221; jadi angka yang cukup presisi.<\/span><\/p>\n<h3><b>1. Apa satu tujuan utama website ini?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jualan langsung? Mengumpulkan leads? Sekadar hadir supaya terlihat kredibel? Tujuan menentukan jenis, dan jenis menentukan harga. Jangan bayar untuk fitur toko online kalau yang Anda butuh cuma company profile.<\/span><\/p>\n<h3><b>2. Berapa banyak halaman dan fitur yang benar-benar dipakai?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat daftar fitur &#8220;wajib&#8221; dan &#8220;kalau ada dana&#8221;. Setiap fitur tambahan \u2014 form pemesanan, multi-bahasa, integrasi WhatsApp, sistem booking \u2014 menambah jam kerja dan otomatis menambah biaya.<\/span><\/p>\n<h3><b>3. Template atau custom?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Template memangkas biaya desain secara drastis dan cukup untuk mayoritas bisnis. Custom baru masuk akal kalau Anda butuh diferensiasi visual yang kuat atau alur yang tidak bisa ditampung template.<\/span><\/p>\n<h3><b>4. Siapa yang mengisi dan merawat konten nanti?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tim Anda tidak ada yang teknis, pilih platform yang gampang diurus sendiri supaya tidak bolak-balik bayar orang untuk sekadar ganti teks. Ini pertimbangan biaya jangka panjang yang sering dilupakan.<\/span><\/p>\n<h3><b>5. Berapa anggaran tahunan, bukan cuma anggaran awal?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini pertanyaan pamungkas. Website itu punya biaya hidup. Kalau Anda cuma menyiapkan dana pembuatan tanpa dana perawatan, setahun lagi website Anda bisa jadi beban, bukan aset.<\/span><\/p>\n<h2><b>Biaya Tersembunyi yang Jarang Disebut di Awal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian ini yang bikin saya paling gemas kalau lihat vendor nakal. Angka penawaran kelihatan murah, tapi ada pos-pos yang &#8220;kebetulan&#8221; tidak disebut sampai Anda sudah terlanjur jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling umum: <\/span><b>biaya perpanjangan tahunan.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Website Rp 8 juta terdengar hemat sampai Anda sadar hosting dan maintenance-nya Rp 3 juta per tahun, dan itu jalan terus selama website hidup. Kesalahan paling sering yang saya lihat justru di sini \u2014 orang fokus mati-matian ke biaya pembuatan, lupa total ke biaya berulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kedua: <\/span><b>batas revisi.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Banyak paket murah membatasi revisi cuma dua atau tiga kali. Lewat dari itu, tiap perubahan kena charge. Untuk proyek yang belum matang konsepnya, ini bisa membengkak diam-diam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang ketiga: <\/span><b>kepemilikan dan migrasi.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Ada vendor yang &#8220;menyandera&#8221; website di platform mereka sehingga Anda susah pindah kalau suatu saat mau ganti. Pastikan sejak awal Anda pegang akses domain, hosting, dan file-nya. Tahun lalu saya bantu klien yang websitenya seperti disandera vendor lama \u2014 pindahnya makan waktu tiga minggu hanya karena akses domain tidak pernah diserahkan ke dia. Repot, dan sebetulnya bisa dihindari kalau ditanyakan di depan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cara Menilai Apakah Harga yang Ditawarkan Sudah Wajar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tahu komponen dan jalur, pertanyaan berikutnya: bagaimana tahu penawaran di tangan Anda itu wajar atau tidak? Harga murah belum tentu untung, harga mahal belum tentu berkualitas. Ini yang saya pakai untuk menilai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, lihat <\/span><b>kejelasan rincian.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Penawaran yang sehat memecah biaya per pos: desain, development, konten, hosting, maintenance. Kalau vendor cuma kasih satu angka gelondongan tanpa rincian, itu tanda tanya. Bukan berarti pasti menipu, tapi Anda berhak tahu uang Anda lari ke mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, cek <\/span><b>apa yang tidak termasuk.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Justru dari daftar &#8220;tidak termasuk&#8221; Anda tahu biaya sebenarnya. Tanyakan eksplisit: domain dan hosting termasuk tidak? Berapa kali revisi? Ada garansi bug berapa lama? Serah terima akses bagaimana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, waspadai <\/span><b>janji yang terlalu manis.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> &#8220;Website jadi 2 hari, langsung ranking 1 Google, harga Rp 1 juta all-in.&#8221; Kombinasi cepat, murah, dan hasil maksimal sekaligus itu hampir selalu tanda ada yang dikorbankan \u2014 entah kualitas, entah ada biaya susulan yang belum disebut. Kalau Anda sedang menimbang penawaran seperti ini, saran saya: minta bicara langsung dengan yang mengerjakan, lihat portofolio nyatanya, dan percayai insting Anda kalau terasa terlalu enteng.<\/span><\/p>\n<h2><b>Website Itu Investasi, Bukan Sekadar Pengeluaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya boleh meringkas semuanya jadi satu kalimat: berhenti bertanya &#8220;berapa biaya pembuatan website&#8221; dan mulai bertanya &#8220;berapa nilai yang website ini harus hasilkan untuk saya&#8221;. Begitu framing-nya bergeser, keputusan soal budget jadi jauh lebih jernih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Website yang dikerjakan benar bukan pos pengeluaran yang habis, melainkan <\/span><a href=\"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/pentingnya-website-untuk-bisnis\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">aset yang bekerja 24 jam tanpa henti untuk bisnis Anda<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Rp 10 juta terasa mahal kalau website-nya cuma jadi pajangan. Tapi terasa murah kalau ia mendatangkan pelanggan tiap bulan. Angka yang sama, nilai yang berbeda total, tergantung eksekusinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Anda sedang menimbang anggaran dan ingin gambaran yang lebih pas dengan kebutuhan spesifik Anda \u2014 bukan angka generik dari internet \u2014 Anda bisa lihat detail <\/span><a href=\"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/web-development\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">layanan web development<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> saya di sini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Saya lebih suka mengobrol soal tujuan Anda dulu sebelum bicara angka, karena dari situlah biaya yang masuk akal itu ketemu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pertanyaan yang Sering Ditanyakan<\/b><\/h2>\n<h3><b>Berapa biaya minimal untuk membuat website yang layak?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk website bisnis yang layak dan aman, siapkan minimal Rp 3 juta \u2013 Rp 5 juta untuk pembuatan, plus sekitar Rp 1 juta per tahun untuk domain dan hosting. Di bawah itu masih bisa, tapi biasanya ada kompromi di kualitas atau keberlanjutan.<\/span><\/p>\n<h3><b>Kenapa harga jasa pembuatan website bisa beda jauh?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena &#8220;website&#8221; mencakup banyak jenis dengan effort yang sangat berbeda, dan karena siapa yang mengerjakan (builder, freelancer, atau agensi) sangat memengaruhi biaya. Tingkat kustomisasi dan jumlah fitur adalah dua pembeda harga terbesar.<\/span><\/p>\n<h3><b>Apakah bikin sendiri pakai WordPress lebih hemat?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih hemat secara uang di awal, ya. Tapi waktu belajar dan mengurusnya tidak gratis. Kalau Anda menghargai waktu Anda dan butuh hasil yang matang, selisih biaya dengan menyewa profesional sering kali sepadan.<\/span><\/p>\n<h3><b>Biaya apa yang harus saya siapkan setelah website jadi?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minimal domain (Rp 150\u2013350 ribu\/tahun) dan hosting (Rp 300 ribu\u20135 juta\/tahun). Kalau website Anda aktif dan butuh update rutin, siapkan juga anggaran maintenance bulanan mulai Rp 300 ribu.<\/span><\/p>\n<h3><b>Harga sudah termasuk SEO belum, biasanya?<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya tidak, kecuali disebut eksplisit. Kebanyakan paket pembuatan hanya mencakup SEO dasar (struktur teknis rapi). Optimasi berkelanjutan untuk naik ranking biasanya layanan terpisah \u2014 pastikan Anda tanyakan sejak awal supaya ekspektasinya jelas.<\/span><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap kali ada yang tanya ke saya, &#8220;Mas, biaya pembuatan website berapa sih?&#8221;, saya selalu menahan diri untuk tidak langsung menyebut angka. Bukan karena mau bertele-tele. Tapi karena pertanyaan itu mirip seperti bertanya &#8220;harga mobil berapa?&#8221; ke orang asing di jalan. Jawabannya bisa Rp 800 ribu, bisa juga Rp 150 juta \u2014 dan keduanya sama-sama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1802,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[223,164,220,218,217,222,221,219],"class_list":["post-1801","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-website","tag-biaya-maintenance-website","tag-biaya-pembuatan-website","tag-biaya-website","tag-estimasi-biaya-website","tag-harga-jasa-website","tag-harga-website-2026","tag-jasa-web-development","tag-paket-pembuatan-website"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1801","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1801"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1801\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1803,"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1801\/revisions\/1803"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1802"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1801"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1801"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/achmadfarid.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1801"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}